Sabtu, 20 November 2010

Ex-Parodia!

Parodia enquanto Halo-!

Jangan tanya ini bahasa apa, aku cuma ngawur, I just writes anything that suddenly appears in my head!

Kali ini aku ada sedikit Trivia! (^o^)/ Bagi kalian semua yang nggak ngerti apa itu 'JOKER' dalam Hetalia, maka akan kujelaskan (dalam bahasa Inggris/on English)!

America's human name is written like this in japanese;

アルフレッド・F・ジョーンズ
(Arufureddo.F.jōnzu)

UK's human name is written like this in japanese;

アーサー・カークランド
(Āsā.kākurando)

When they take the first letter of their last names we get;

ジョーカー or JOKER

In Japanese it's pronounced 'Jookaa'.
So, JOKER=USUK!! \(>//o//<)/

Aku dapat info ini dari TsumetaiKaze di Youtube!
Thanxx bangeeet! Akhirnya aku mengerti kenapa kebanyakan video USUK judulnya 'JOKER bla bla..'(*\\p\\*)

Dan di lain sisi, aku dapat ide nista untuk nulis cerita pendek kali ini! (^v^)>
Thx buat adikku yang udah ngasih ide super nista ini!

!!!!WARNING!!! Mature content+yaoi+Indonesian Language+LEMONS! Don't like don't read don't hate me don't block my blog and anything bad to me!! I already warn you!!!

  Di pertengahan musim panas—lebih tepatnya di siang itu, Iru (Mint) sedang bermalas-malasan di teras rumahnya. Ia merendam kakinya di air es yang diwadahi baskom, sedangkan tangannya sedang sibuk mengipasi dirinya sendiri. Yukata biru yang ia gunakan mulai terasa lembab karena keringatnya sendiri.

"Yang benar saja.. Tidak ada angin sama sekali" Keluhnya. Tangannya mulai berhenti mengipasi dirinya sendiri. "Kenapa juga listrik mati saat siang hari begini,"

"Yo! Ikut mendinginkan badan di rumahmu dong, Iru!" Sapa seseorang dari luar pagar. Tanpa melihat pun Iru langsung tahu siapa pemilik suara tersebut.

"Listriknya mati" Ucap Iru tanpa basa-basi. Ia merasa kesal dengan kehadiran orang tadi. Diam-diam perasaan senang menyelinap di hatinya.

"Eh?! Jadi yang mati bukan hanya rumahku saja?! Jadi aku harus ngadem di mana??!" Orang tadi langsung panik seketika—membuat Iru emosi.

"Sudahlah, Oran! Masuk saja! Jangan berisik! Itu hanya membuat hawa makin panas tahu" Dalam hati Iru memaki-maki lelaki yang bernama Mikan tadi. 'bodoh! Apa dia tidak melihat atau mendengar berita bahwa hari ini terjadi pemadaman listrik di kota?'.

  Oran (jeruk) pun melompati pagar rumah Iru dan segera duduk di samping Iru. Teras rumah Iru lumayan besar. apalagi teras tersebut terletak persis di depan kamarnya, oleh karena itu Iru lebih sering beristirahat di teras dibanding di kamarnya sendiri.

"Thanks iru sudah mengijinkanku untuk ngadem di rumahmu. Sebagai gantinya ini, aku beri kau satu es krimku." Ucap Oran seraya menyodorkan sebuah es krim batangan kepada Iru. Iru segera mengambilnya dan membuka bungkusan es krim itu.

  Dahinya mengernyit begitu menyadari rasa es krim pemberian Oran.

"Kenapa harus Mint?" Tanyanya sinis.

"Eh? Sesuai dengan namamu kan?" Jawab Oran polos.

"Geh—terima kasih" Tukas Iru dengan sinis lagi.

"Hmm, kalau kau tidak suka biar es krim mint itu untukku saja" Oran pun menjilat es krim mint yang sedang digenggam Iru. Seketika pipi Iru memerah karena tindakan Oran tadi tiba-tiba dan sama dengan ciuman secara tidak langsung.Sedetik setelah itu Oran menyambar es krim Iru. "Ini es krimku untukmu. Belum kubuka kok?"

"Te.. Terima kasih" Pipi Iru memerah, tapi ia masih memasang tampang datar. Dibukanya bungkus es krim itu, tapi tidak bisa. Tangannya licin.

"Ada apa, Iru?"

"Tolong bukakan. Tanganku licin" Iru menyerahkan es krimnya. Wajahnya tidak menoleh karena pipinya masih memerah. Detak jantungnya juga makin tak karuan.

"Ok," tanpa ba-bi-bu Oran langsung mengambil es krim rasa vanilla milik Iru dan membuka bungkusannya. "Oh,ya. Aku jadi teringat akan lelucon tentang es krim!"

"Apa itu?" 'Ah, mungkin aku bisa melupakan perasaan ini dengan mendengarkan leluconnya' batin Iru.

"Begini..Kubuka dengan ganas baju birumu yang ketat,"

DEG!

kenapa harus komedi porno sih?! Iru mulai linglung sendiri. Ia berusaha menenangkan pikirannya.

"Kusentuh tubuhmu dengan penuh nafsu,"

Ukh..! Hentikan Oran!!

"Kujilat susu putihmu yang sangat manis,"

DEGG!! Dan seketika badan Iru lepas kendali.

"Hmm.. Enaknya makan Oreo! Mau—" Belum sempat Oran menyelesaikan ucapannya, Iru sudah mendorongnya sampai ia tertidur di lantai. Alhasil kedua es krim mereka jatuh berceceran. Iru berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Oran yang kebingungan hanya bisa diam.

"He.. Hentikan candaanmu itu.. Tidak..lucu.." Gumam Iru di sela-sela nafasnya yang terputus-putus.

  Perlahan tapi pasti Oran mengerti dengan apa yang terjadi. Ia merubah posisinya menjadi duduk dengan Iru dipangkuannya. Mereka saling berhadap-hadapan sekarang.

" Iru.." Bisik Oran di telinga Iru. Iru langsung merinding, tapi hal tersebut berhasil membuatnya terangsang.

"He.. Hentikan Oran.." Oran sama sekali tidak mengindahkan pinta Iru. Ia menggigit daun telinga Iru sampai lelaki berwajah datar itu mengerang. Tangannya mulai menyelinap ke dalam yukata Iru. Desahan Iru semakin jelas terdengar.

" Gawat kalau begini," Ucap Oran tiba-tiba. Ia menghentikan aktivitasnya dan menggendong Iru ke atas kasur. Kemudian ia menutup pintu teras dan juga kordennya.Begitu membalikkan badan tiba-tiba Iru menciumnya.

"Kau mau kemana.. Aku mohon jangan pergi." Suara Iru berubah manja. Wajahnya yang biasanya menunjukkan tampang datar berubah menjadi sangat manis. Sedikit air mata di ujung matanya ditambah dengan nafas tersengal-sengal, keringat, serta pipi yang memerah seperti buah apel.
  Oran tersentak melihat wajah sahabatnya yang biasanya dingin itu. Ia mulai terangsang dan pipinya pun memerah, begitu juga dengan alat kelaminnya yang mulai mengeras. Tanpa ia sadari Iru mulai menjilati pipi serta sudut bibirnya,"Oran.." desah Iru dengan suara menggoda.

BRUK!!

  Iru pun terlempar ke kasur. Sedetik setelah itu Oran menaiki tubuh Iru dan memeluknya dengan kuat. Kemudian menciumi leher Iru dan perlahan-lahan melepas Yukata yang membalut tubuh Iru. Lidahnya mulai menuruni tubuh Iru. Dari leher, menuju tulang selangka, kemudian sempat berlabuh lama di puting Iru, dan akhirnya lanjut ke perut Iru.

"Sesuai leluconku tadi—manis sekali, Iru"

  Tangan Iru diam-diam membuka resleting jins dan celana dalam Oran. Ia meremas pelan penis Oran hingga lelaki berambut oranye itu mendesah pelan.Tak puas—digesekkanlah penisnya dengan penis Oran hingga menimbulkan sensasi yang tak terkatakan.
Sudut-sudut bibir Iru membentuk senyum tipis—membuat Oran tak kuasa untuk tidak menciumnya.Seperti yang sudah bisa diduga, lidah mereka turut turun tangan. Mereka menjilat, bermain-main, dan memasukkan lidah satu sama lain.Sampai keluar saliva (air liur) dari mulut mereka berdua, barulah mereka melepas ciuman ganas tersebut.

"Aku.. Boleh mencoba untuk menjilatnya?" Tanya Oran dengan malu-malu. Ia menunjuk bagian yang dimaksudnya. Iru mengangguk dan menjawab "Aku juga ingin mengulum milikmu".

  Jadilah mereka mebentuk posisi '69'. Iru menjilati penis Oran, begitu juga Oran menilati penis Iru.

"Ngh!" Tiba-tiba Iru memekik. Ia merasa sesuatu akan muncrat dari tempat bekas preputiumnya.

"Lepaskan mulutmu.. Oran.."

"Tidak akan," Oran tetap menjilati dan mengulum penis Iru. Iru memperkuat cengkramannya kepada seprai kasur dan tetap berusaha menjilati penis Oran. Tetapi batas tetaplah batas—sperma pun menciprati wajah Oran. Bukannya berhenti, Oran justru semakin gencar menjilati penis Iru.

"Ja—Jangan dijilat! Itu kotor, bodoh!" Iru mulai malu sekaligus senang dengan perbuatan Oran. Sifat tsunderenya perlahan-lahan muncul kembali.

"Aneh, spermamu rasanya manis— ah bukan, tapi enak sekali?" Oran masih asyik menjilati penis dan sperma Iru seakan-akan itu adalah es krim yang sangat digemarinya.

"Tidak mungkin sperma itu enak, bodoh! Lidahmu saja yang sala— Upph!!" Mulut Iru langsung dibungkam dengan ciuman Oran. Lidah Oran kembali memasuki mulut Iru dan meninggalkan sebuah lendir atau cairan di sana. Otomatis mereka saling berhadapan sekarang.

"Bagaimana? Aku tidak bohong,kan?" Ucap Oran lega dengan polosnya. "Spermamu memang enak sekali. Kalau begini aku akan berhenti makan es krim dan akan sering-sering menjilati pen—" Seketika kaki Iru mendorong wajah Oran agar ia tidak menyelesaikan ucapannya.

"Dasar mesum! Aku sama sekali tidak ingin mencoba spermaku sendiri,bodoh!"

"..Kalau begitu kau mau mencoba sperma milikku?" Tanya Oran dengan wajah jahil-ala-seme. Iru langsung memerah dan menunjukkan wajah malu-tapi-mau-ala-tsundere.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Fuwaaa~! Akhirnya selese~! Sengaja nggak kuselesaikan biar kalian imajinasi sendiri kelanjutannya gimana (=w=)> Yang pasti kelanjutannya R18 LOL
Oran itu sebenarnya es krim rasa jeruk dan Iru rasa mint. Seharusnya namanya bukan 'Oran' melainkan 'Mikan', tapi menurutku lebih cocok Oran, akhirnya kuganti deh~!
Ah! Aku kasih omake sedikit deh setelah kejadian GaJe itu:
Akhirnya, Oran terpaksa membeli es krim lagi karena es krimnya tadi sudah jatuh berceceran.
"Ini es krimmu, Iru. Maaf," Ucapnya seraya menyodorkan sebuah es krim kepada Iru. Iru yang pura-pura marah langsung menyambar es krim itu dan mencium kening Oran.
"Dasar! Lain kali jangan kau ulangi lagi!" Iru menyobek bungkusan es krimnya dan menjilatnya. Tangannya langsung gemetar begitu mengetahui rasa es krim tersebut. "Oran,"
"Ya?"
"Si.. Si.. SIALAN KAU!!!"
"Ha?"
"KENAPA HARUS RASA JERUK?!?! ORAN NO BAKAAAAAAA!!!!"
--------------------------------------------------------------------------
Well, pada dasarnya Iru emang sensi and temperamental. Dia dengan mudahnya tersinggung kalau dapat es krim rasa mint. Dan merasa malu kalau memakan es krim rasa jeruk (Karena ia menyukai Oran).
(-___-)
Kalo kalian nggak ngerti dengan omake-nya, ini aku gambarkan (Ver. Tsundere Iru)

OKEH~ SEKIAN DULU! AKU BARU BIKIN AKUN PIXIV NIH! SENENG BANGEEEEEEEEET!!!


★☆★★★★★★☆★★☆★★☆★★☆★★☆★★☆★★☆★★☆★★☆★★

Tidak ada komentar: